Rabu, 01 Agustus 2012

materi ceramah

INDAHNYA KEPEMIMPINAN RASULULLAH SAW
Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirabbil'aalamiin
Allahuma shalli 'ala Muhammad wa'ala aalihi waashabihii ajmai'iin

Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Menatap, Maha Menggenggam diri kita semua. Dialah satu-satunya yang menguasai segala-segalanya. Dialah yang menentukan kita bisa hadir di tempat yang amat dirindukan oleh umat Islam ini.
Saudaraku yang budiman,
Insya Allah pada hari ini, betapa pun kita tidak bisa melihat Allah swt tapi yakinlah bahwa Allah Maha Menatap kita. Kalaupun kita tidak bisa menyaksikan malaikat, tapi demi Allah, Allah membanggakan diri kita di hadapan para malaikat.
Inilah hari dimana seorang hamba dijadikan haji oleh Allah di padang Arafah. Sepatutnya siapapun yang hadir di tempat ini, merasa amat malu, karena kita bisa hadir di tempat ini bukan karena kemuliaan kita, bukan karena harta kita, bukan karena kekuasaan kita. Jauh lebih banyak orang-orang yang lebih soleh dari pada kita. Yang setiap malam bermunajat kepada Allah meminta agar bisa dijamu di Arafah ini. Banyak orang-orang yang setiap malam menangis meminta kepada Allah agar bisa merasakan nikmatnya sujud di sini. Banyak orang yang lisannya tiada pernah berhenti menyebut nama Allah. Tapi bandingkan dengan kita. Hari-hari kita yang lupa kepada Allah, sodaqoh kita amat sedikit, aib kita melimpah ruah dan dosa kita menggunung tinggi. Maka sebaik-baik haji adalah haji yang sepulang dari tempat ini benar-benar harus berbuat sesuatu. Setidaknya kita harus dapat memperbaiki diri, tidak menjadi orang yang mempermalukan hamba-hamba yang dijamu oleh Allah di Arafah ini.
Saudaraku yang budiman,
Pada hari ini kita melihat dari seluruh penjuru dunia, berdatangan tamu-tamu Allah di padang Arafah ini. Sungguh sesuatu yang tidak pernah kita lihat sebelumnya. Beraneka warna kulit, aneka bentuk tubuh, semuanya menyebut nama Allah. Melangkah, bercucuran keringat, bersimbah peluh, tapi semuanya begitu gigih. Andaikata akan kita renungkan, ini adalah salah satu bukti betapa agung dan hebatnya pengaruh Rasulullah terhadap umat.
Ribuan tahun telah lalu, ribuan kilometer tembus bahkan kita pun datang dari Indonesia ke Tanah Suci. Mudah-mudahan pada siang ini kita bisa mengambil sebuah renungan, salah satu contoh dari Rasulullah yang seharusnya menjadi acuan yang selalu kita tiru, yaitu keindahan kepemimpinan Rasulullah saw. Karena kepemimpinan berarti pengaruh. Makin kuat kepemimpinan seseorang, makin kuat pengaruhnya. Bahkan tembus ke hati kita. Kita rela menabung, kita rela mengurangi makan untuk pergi ke tempat ini. Pemimpin seperti apakah Rasul sehingga bisa tembus ke relung hati kita? Siang malam kita merindukan mimpi berjumpa dengan beliau. Berdesak-desak di Raudhah pun kita jalani. Pemimpin seperti apakah beliau yang bisa menembus jantung kita ini? Sebetulnya inilah warisan rasul yang harusnya kita miliki. Inilah warisan kepemimpinan yang seharusnya menggerakkan keluarga kita, menggerakkan umat.
Saudara-saudaraku,
Kita sekarang sulit mencari pemimpin yang bisa membekas dihati kita. Bahkan seorang anakpun sering merasa ayahnya tidak hadir di hatinya. Ayah seperti apa kalau tidak ada di hati anaknya?
Alangkah indahnya jikalau hadir diantara kita, di negeri kita, di keluarga kita, pemimpin seindah Rasulullah saw. Yang setiap menatap wajah beliau, hati ini menjadi sejuk. Yang setiap mendengar ucapan beliau, bergetar jiwa ini. Yang setiap melihat pribadi beliau, tergerak diri ini. Itulah seindah-indah pemimpin yang seharusnya menjadi warisan, khususnya bagi kita yang pernah dijamu di Arafah ini. Rasulullah mengajarkan bahwa kita ini sebenarnya adalah pemimpin. "Kalian semua adalah pemimpin. Dan kalian akan ditanya semua tentang kepemimpinan." Sayang banyak diantara kita tidak menyadari bahwa kita harus bertanggungjawab di akhirat nanti.
Apa gerangan yang membuat pribadi Rasulullah begitu menghujam di hati kita?
Yang pertama ternyata baginda Rasulullah adalah yang pribadi mulia. Beliau memimpin orang lain diawali dengan memimpin dirinya sendiri. Beliau pimpin matanya sehingga tidak melihat apapun yang akan membusukkan hatinya. Kita kadang memimpin mata saja tidak sanggup. Mengapa hati kita menjadi busuk? Karena mata kita tidak bisa kita kendalikan. Rasulullah memimpin tutur katanya, sehingga tidak pernah beliau bebicara, kecuali kata-kata yang benar, indah, padat dengan makna. Bayangkan, kita berbicara setiap hari ribuan mungkin puluhan ribu kata, tapi mana yang benar? Kadang kita sendiri pun ragu terhadap kata-kata kita. Rasulullah memimpin keinginannya. Rasulullah memimpin nafsunya sehingga subhanallah... beliau memimpin dirinya sehingga menjadikan mudah memimpin orang lain. Sayang, kita sangat banyak ingin kedudukan, jabatan, kepeimipinan, padahal memimpin diri sendiri saja kita tidak sanggup. Itulah yang menyebabkan seorang pemimpin tersungkur menjadi hina. Tidak pernah ada seorang pemimpin jatuh karena orang lain, seseorang hanya jatuh karena dirinya sendiri.
Oleh karena itu saudara-saudaraku, marilah kita tekadkan sepulang dari tempat ini sebelum saya pimpin keluarga, memimpin lingkungan, saya harus pimpin diri saya. Saya tidak akan hancur kecuali oleh karena diri ini tidak sanggup memimpin mata, lisan, hati, dan perilaku.
Yang kedua, saudara-saudaraku sekalian. Rasulullah saw ternyata memimpin orang lain tidak dengan banyak menyuruh atau melarang. Benar kalau suruhan dan larangan itu hanyalah bimbingan dari Allah. Laqodkaana lakum fii rasulillahi uswatun hasanah... Subhanallah, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin dengan suri tauladan. Orang yang ada di sekitar kita tidak hanya punya telinga, mereka pun memiliki mata, memiliki perhitungan, memiliki pertimbangan, memiliki perasaan. Sehebat apapun yang kita katakan tidak akan pernah berharga, kecuali kalau perbuatan kita seimbang dengan kata-kata. Bagaimana mungkin kita dalam keluarga merindukan anak-anak yang berperilaku lembut jikalau seorang ayah atau seorang ibu berperilaku bengis dan kasar? Bagaimana mungkin kita menginginkan umat santun jikalau para ustadz dan para ulama tidak mengenal kesantunan? Bagaimana mungkin umat akan bangkit menjadi orang yang bersemangat dalam kebajikan jikalau pemimpinnya tidak bersemangat?
Oleh karena itu Rasululah tidak menyuruh orang lain sebelum menyuruh dirinya sendiri. Tidak melarang sebelum melarang dirinya. Kata dan perbuatan amat serasi sehingga setiap kata-kata diyakini kebenarannya.
Saudara-saudaraku, jangan jatuhkan diri kita dengan memperbanyak kata yang tidak sesuai dengan perilaku. Percayalah, Allah tidak akan mengangkat derajat seseorang dengan kata-katanya belaka, jikalau tidak diikuti dengan perilakunya. Bahkan ancaman Allah, "Amat besar kemurkaan di sisi Allah bagi orang yang berkata-kata apa yang tidak diperbuatnya.” (QS 61:3)
Yang ketiga saudaraku yang budiman,
Rasulullah ternyata memimpin tidak hanya menggunakan akal atau fisik tetapi tapi yang paling penting beliau memimpin dengan qalbunya.
Saudaraku, hati tidak akan pernah bisa tersentuh kecuali dengan hati lagi. Bagaimana mungkin seorang ayah ada di hati anaknya jikalau anak hanya terbagi sisa waktu? Bagaimana mungkin seorang anak bisa mencintai ibu-bapaknya jikalau orangtuanya tidak sungguh-sungguh memberikan hati kepada anaknya? Ada yang hanya memberi harta, ada yang hanya memberi makanan, hanya memberikan kendaraaan. Itu hanyalah benda! Yang dibutuhkan manusia adalah hati. Karena itulah yang tidak dimiliki oleh binatang, tidak dimiliki oleh makhluk lainnya.
Rasulullah menabur cinta kepada hamba-hamba Allah sehingga setiap orang bisa merasakan dari tatapannya yang penuh kasih sayang. Dari tutur katanya yang rahmatan lil 'alamiin, perilakunya yang amat menawan.
Saudaraku,
Terkadang hati kita yang satu-satunya ini diisi oleh kebencian. Benarlah yang dikatakan Buya Hamka: "Tidakkah engkau lihat betapa indahnya gunung yang hijau. Atau engkau tatap langit yang biru bertabur awan seputih kapas atau engkau bangun di malam hari melihat taburan bintang dan bulan nan indah. Atau engkau bangun di gulitanya malam engkau dengar indahnya jangkrik bersahutan, semua ini indah. Lalu mengapa hati kita yang satu-satunya ini harus kita isi dengan kebusukan? Dengan kebencian? Kedendaman? Serakah?" Tidak akan terangkat martabat seorang pemimpin yang tidak memiliki kasih sayang.
Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik pemimpin diantara kamu adalah yang kamu mencintainya, dan diapun mencintaimu. Engkau menghormatinya, dan dia pun menghormatimu. Dan sejelek-jelek pemimpin adalah pemimpin yang engkau membencinya, dan dia pun membencimu. Engkau melaknatnya, dan ia pun melaknat."(HR. Muslim)Nau'dzubillahi min dzalik.
Saudaraku, haji yang mabrur sepatutnya adalah haji yang hidup hatinya. Yang melihat orang lain penuh dengan kasih sayang. Melihat orang yang bergelimang dosa, terucaplah doa... "Ya Allah kalau tidak Engkau lindungi, saya pun mungkin berlumur dosa seperti dia. Saya sekarang bisa shalat, bisa sujud karena pertolongan-Mu. Ya Allah selamatkan saudara kami yang bergelimang dosa. Mungkin dia pun ingin bahagia tapi belum menemukan jalannya". Seorang yang hatinya hidup selalu merindukan kebaikan, keselamatan, kebahagiaan bagi orang lain. Tapi tidak bagi orang yang hatinya keras membatu. Hanya dengki, iri, sombong, riya, takabur. Dia tidak akan pernah bisa memimpin siapapun. Karena pemimpin yang hatinya busuk tidak akan pernah bisa menyentuh hati orang lain.
Ibu bapak yang budiman,
Seorang pemimpin di rumah tangga tidak cukup hanya bisa memberi harta. Penjahat pun bisa memberi harta. Pemimpin yang baik memberikan perhatian yang tulus, ucapan yang terjaga, dan perilaku yang budiman, subhanallah. Itulah Rasulullah yang mulia. Pemimpin yang dicontohkan oleh Rasul adalah pemimpin yang bisa berkhidmat kepada kaumnya. Karena sayidnya pemimpin dari satu kaum khadimukum yaitu orang yang bisa berkhidmat kepada mereka. Jadi pemimpin dalam Islam bukan pemimpin yang harus dilayani segala-galanya. Terbayang ketika Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat, ada sahabat yang berkata: "Rasul, kita akan memotong kambing. Saya yang memotongnya ya Rasul." Tiba-tiba sahabat lain mengacungkan tangan, "Ya Rasul, saya yang mengulitinya." Satu lagi mengatakan, "Rasul, biarlah saya yang memasaknya." Rasulullah bangkit, "Biar saya yang mencari kayu bakarnya." Pemimpin mana yang teramat indah seperti ini? Yang tidak merasa bangga dilayani tetapi merasa berhutang untuk bisa melayani.
Saudaraku yang budiman,
Dalam Islam tidak seperti piramida tetapi piramida terbalik. Setinggi-tinggi pemimpin adalah orang yang bisa berkhidmat dengan tulus. Yang menafkahkan jiwanya, raganya untuk kemashlahatan ummat. Dia berkorban dengan amat mudah dan ringan karena merasa itulah kehormatan menjadi pemimpin bukan mengorbankan orang lain, subhanallah.
Saudara-saudaraku,
Alangkah indahnya jikalau hari-hari yang ada kita isi dengan kerinduan untuk berkhidmat. "Ya Allah berikan kepada saya rezeki yang banyak, halal dan berkah agar saya bisa menjadi jalan dari-Mu untuk hamba-Mu yang lapar, yang sakit, yang tidak punya tempat berteduh." Alangkah bahagianya jikalau kita terus tiap hari meraup ilmu agar kita menjadi jalan hidayah. Pemimpin yang budiman bukan berpikir apa yang dia dapatkan dari umat, tetapi apa yang dia bisa berikan yang terbaik bagi umat.
Saudaraku yang budiman,
Prihatin sekali kita, sekarang sepertinya sulit mencari pemimpin diantara 220 juta penduduk Indonesia. Saling mengutuk, saling menghujat, saling mencaci. Kita belum memiliki pemimpin tertinggi di negeri ini, yang lulus dengan selamat di penghujung kepemimpinannya. Terjatuhkan, terpuruk, sebagian masuk penjara, sebagian terhina. Para petinggi di negeri kita kebanyakan adalah umat Islam jua.
Mungkin kalau berpikir negeri terlalu besar, marilah kita berpikir bagaimana kita memimpin diri kita sendiri. Minimal sepulang dari tempat ini jangan pernah biarkan diri kita menjadi hina karena mata yang jelalatan tidak terjaga. Minimal jangan sampai kita menjadi terhina dengan tutur kata yang penuh kesombongan. Saudaraku, marilah kita hidupkan hati kita dan marilah kita muliakan kehidupan dengan berkhidmat kepada orang lain. Khoirunnas anfa uhum linnas... "Sebaik-baik di antara manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya."
Allah mengundang kita ke tempat ini tentu bukan semata-mata hanya untuk kepentingan kita. Sepulang dari tempat ini kita berhutang, bagaimana mencerminkan orang yang pernah dijamu oleh Allah di Arafah ini. Andaikata kita bisa menjadi suri tauladan, menjadi pemimpin yang indah di rumah, terbayang jika kita meninggal kelak, anak-anak kita bertabur doa setiap waktu karena yang dikenang hanyalah keindahan pribadi ibu bapaknya. Seperti ketika Siti Khadijah wafat, Rasulullah selalu menceritakan kebaikannya karena memang amat indah pribadinya. Sebaik-baik warisan seorang haji yang mabrur adalah akhlak yang mulia.
[Muhasabah:]
Allahumma shalli wasalim wabaarik ala sayyidina wa maulana Muhammad wa ala alihi waashabihi ajmain
Alhamdulillah ya Allah, wahai Yang Maha Mendengar

Tiada mungkin kaki kami melangkah ke tempat ini

kecuali Engkau yang menguatkan
Tiada mungkin tergerak di hati kami ingin menjalankan haji kecuali Engkau yang
menggerakkan
Tiada mungkin serupiah pun kami miliki kecuali Engkau yang memberikan
Tiada mungkin kami sehat kecuali Engkau yang menyehatkan

Tiada mungkin kami dapat membantu tubuh ini berwudhu kecuali Engkau yang mengajarkan
Tiada mungkin lisan ini dapat menyebut nama-Mu

kecuali Engkau yang membimbing ya Allah
Betapa banyak makhluk yang Engkau ciptakan

Betapa sedikit yang berada di Arafah ini ya Allah
Rabb...
Dengan apa kami mensyukuri nikmat haji ini ya Allah…

Kecuali berharap kepada-Mu
Terimalah haji kami ini ya Allah
Allahummaj 'al hajjan mabruura, wa sa'yan masykuura

wa dzanban maghfuura.
Rabbana dholamnaa anfusanaa wa illam taghfirlanaa

watarhamnaa lanakuunanna minal khosirin.
Duhai Allah, ampuni seluruh dosa kami

Engkau menjanjikan haji yang mabrur
Bersih dari dosa bagai bayi yang baru terlahir

Alangkah indahnya jikalau kami Engkau pilih demikian ya Allah
Allah, Engkau Maha Mengetahui betapa menderitanya

diri kami dengan lumuran dosa
Betapa sengsaranya hidup kami dengan menutupi aib

Betapa hinanya diri kami dengan maksiat

Bersihkan kami ya Allah
Bersihkan dosa kami ya Allah
Ampuni dosa kami kepada orang tua kami

Ampuni jikalau mereka menyesal melahirkan kami

Ampuni dosa kami kepada keluarga kami ya Allah,

kepada anak-anak kami
Jangan biarkan mereka menuntut kami di akhirat

Berikan kesempatan bagi kami memperbaiki segalanya.
Rabbana hablanaa min azwaajinaa wadzurriyyatina

qurrota a'yun, Waj 'alnaa lilmuttaqiina imaman.
Ampuni ya Allah jika di sekujur tubuh kami ada harta haram

Di rumah kami banyak barang haram
Padahal Engkau mengharamkan ke sorga bagi yang di tubuhnya ada daging haram
Berikan kesempatan kami untuk menyucikan diri

dari harta haram ya Allah
Jauhkan sejauh-jauhnya ya Allah
Cukupi diri kami dengan rizki-Mu yang halal
Ya Allah ampuni jikalau kami sering mendzalimi

hamba-hamba-Mu yang lemah
Berikan kesanggupan bagi kami untuk terpelihara dari kedzaliman

Duhai Yang Maha Mendengar, hanya Engkaulah tumpuan harapan kami
Jadikan kaum muslimin ini menjadi suami yang benar

Menjadi ayah yang jujur
Menjadi laki-laki yang shaleh
Jadikan Kaum muslimah ini menjadi istri yang shalehah

Menjadi ibu yang shalehah
Menjadi muslimah yang terpelihara
Titipkan kepada kami duhai Allah,
keturunan yang lebih baik daripada kami
Lindungi dari kedurhakaan dan kehinaan dunia wal akhirat
Ya Allah berkahilah sisa umur kami
Berkahilah rezeki yang Engkau titipkan kepada kami

Berkahilah ilmu yang Engkau karuniakan

Berkahilah sisa umur ini
Allahummaghfir lilmu'miniin wal mu'minat muslimin wal muslimat, al ahyaai minhum wal
amwaat...
Ya Allah selamatkan umat Islam ya Allah
Selamatkan umat Islam ya Allah
Jangan biarkan Engkau saksikan kami terhina seperti ini

Persatukan hati kami ya Allah
Bangkitkan para pemimpin yang mencintai-Mu dan mencintai umat-Mu
Tolonglah saudara kami yang teraniaya di penjuru mana pun ya Allah
Jangan biarkan kaum dzalimin berjaya atas kaum beriman ya Allah
Jangan biarkan kaum yang ingkar kepada-Mu mendzalimi kaum yang bersujud kepada-Mu

Ya Allah mereka dalam genggaman-Mu ya Allah

Ya Allah cegahlah kedzaliman atas umat-Mu ya Allah
Ya Allah, selamatkan negeri kami ya Rabb

Engkaulah yang Maha Tahu keadaan negeri kami

Jangan biarkan ummat-Mu sebanyak ini terpuruk dan terhina

Bangkitkan ya Allah
Jadikan negeri kami negeri yang terpancar cahaya Islam

Menjadi negeri yang rahmatan lil 'aalamiin
Ya Allah karuniakan kepada kami pemimpin yang sholeh

Para pemimpin yang mencintai ummat-Mu
Para pemimpin yang teguh hidup di jalan-Mu

Para pemimpin yang benar-benar menjadi suri tauladan bagi kami
Duhai ya Allah yang Maha Agung
Undanglah kami, dengan keluarga kami dengan keturunan kami, dengan orang-orang yang berbuat baik kepada kami
Ya Allah, ijinkan kelak kami berjumpa dengan-Mu ya Allah

Berjumpa dengan Rasul-Mu
Berjumpa dengan kekasih-kekasih-Mu
Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah

Wa Qiina Adzabannar
Rabbana taqobball minna innaka anta samiul 'alim watub alayna innaka antattawaburrahiim Subbahaana rabbika rabbil 'izzati 'ammaa yaashifuun wasalamun alal mursaliin Walhamdulillahirrabil alamiin

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

MEMPERERAT SHILATURRAHIM

Islam, di samping mengatur bagaimana seharusnya berhubungan dengan Sang Pencipta (hablun minallah) juga menggariskan bagaimana seharusnya manusia berhubungan dengan semua manusia (hablun minannas). Jenis hubungan yang kedua ini bertujuan agar seseorang dapat bergaul dengan sesamanya dengan cara yang baik dan menyenangkan, baik dalam ruang lingkup yang luas, maupun dalam lingkup yang terbatas, seperti bergaul dengan kerabat dekat, tetangga, handai tolan, dengan atasan dan bawahan di tempat tugas, atau dengan pembantu di rumah sekalipun.
Hablun minannas dalam lingkup yang paling sempit adalah hubungan antara anggota keluarga. Masyarakat luas seperti masyarakat Indonesia ini adalah merupakan kumpulan dari masyarakat-masyarakat kecil yang disebut keluarga atau sanak famili. Bila hubungan  dalam setiap unit terkecil ini berjalan baik dan harmonis, maka hampir dapat dipastikan hubungan antar keluarga masyarakat yang lebih luas dapat berjalan dengan baik dan harmonis pula.
Banyak ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Nabi saw. yang mendorong manusia agar dapat bergaul dengan baik antar sesamanya, termasuk dalam pergaulan dalam lingkup masyarakat keluarga. Di antara ayat tersebut adalah QS. An-Nisa ayat 36:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”
Salah satu ajaran Islam yang bertujuan untuk memperkokoh hubungan antara sesama anggota kerabat dekat adalah  apa yang disebut dengan shilaturrahim. Rahim dalam bahasa Arab berarti kandungan janin dalam perut ibu. Maksudnya di sini adalah kerabat dekat satu keturunan dari pihak ayah maupun pihak ibu, ayah dan ibu, kakek dan nenek, saudara kandung laki-laki dan perempuan, paman, bibi, serta keturunan masing-masing. Islam sangat mendorog agar kita benar-benar memperhatikan hubungan baik dengan anggota keluarga dekat satu keturunan. Demikian pentingnya  hubungan dengan keluarga dekat ini, sampai-sampai dicantumkan dalam al-Qur’an dalam ayat yang sama setelah perintah untuk bertaqwa kepada Sang Pencipta. Allah berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ

"Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim".
Dalam sementara kitab Tafsir, disebutkan bahwa menjaga shilaturrahim yang dimaksudkan antara lain tidak melakukan perbuatan apapun yang sekiranya akan menyunggung atau menyakiti perasaan anggota keluarga dekat. Rasulullah juga telah bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ الرَّحِمِ

"Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan shilatur rahim."
Sabdanya lagi :
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأُ لَهُ فِى عُمْرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ .
“Siapa yang ingin banyak rezeki dan ingin deberkahi aumurnya, pereratlah hubngan silaturrahim.”
Maksud dari umur yang diberkati dalam hadits ini menurut Imam Nawawi ialah umur yang dimanfaatkan untuk taat kepada Alah, hidupuya diisi dengan perbuatan-perbuatan yang berguna bagi kehidupan di akhirat kelak, dan kehidupan yang terhindar dari pertengkaran, saling membenci dan saling hasud serta dendam di antara sesama manusia, khususnya di kalangan keluarga dekat.
Nasihat dan peringatan Rasulullah saw. tersebut sangatlah logis, karena shilaturrahim dalam ajaran Islam dilakukan dengan banyak sekali cara. Saling membantu atau kerja sama dengan fikiran, harta dan tenaga, dengan cara menengok mereka yang sakit, meringankan beban mereka yang terkena musibah, berbagi rasa dalam suka dan duka, menampakkan raut wajah yang menyenangkan ketika bertemu satu dengan yang lain, mengulurkan tangan bagi mereka yang memerlukan pertolongan, menjauhkan diri dari hal-hal yang sekiranya akan menyinggung perasaan, dan lain sebagainya. Semua itu dianjurkan dalam sikap, tutur kata dan perbuatan, serta tindakan yang sebenernya juga perlu ditampakkan atau diberikan kepada semua orang tanpa kecuali. Hanya saja, anggota kerabat atau famili terdekat perlu lebih diprioritaskan, terutama di saat fasilitas hidup yang kita miliki terbatas. K arena, kaum kerabat lebih dekat kepada diri kita dari pada anggota masyarakat yang lain.
Pada zaman sekarang ini, di mana hubungan lewat pos dan telekomunikasi begitu mudah dan cepat, membiarkan kaum kerabat dengan alasan tempat tinggal yang berjauhan satu sama lain, tidak bisa diterima lagi. Hubungan  shilaturrahim dengan keluarga, sesibuk apapun kita, dapat dilakukan  melalui pos, telepon, alat transportasi dan fasilitas lain yang begitu mudah diperoleh.
Terdapat beberapa faktor mengapa shilaturrahim sangat dianjurkan dalam agama Islam. Faktor-faktor tersebut, antara lain:
Pertama, bahwa masyarakat di manapun, pasti dari anggotanya ada yang lemah di samping anggotanya yang kuat. Ada yang berkemampuan dan ada yang tidak punya. Keadaan ini akan membuat kehidupan tidak stabil dan tenteram, kecuali bila hubungan tolong menolong antara sesama anggota masyarakat terbina dengan baik. Andaikata tolong menolong ini dibiarkan tenpa ada arahan dari agama, bisa jadi timbul pendistribusian bantuan dan pertolongan yang pincang, sehingga boleh jadi sekelompok orang menerima bantuan yang berlimpah melebihi keperluannya, sementara ada kelompok lain yang tidak terjangkau oleh bantuan sedikitpun. Di sini Islam mengarahkan kaum Muslimin untuk memberikan bantuan moril maupun materil  yang dimulai dari kerabat terdekat, sebelum diberikan kepada anggota masyarakat yang leibh luas, khususnya bila kemampuan memberi bantuan terbatas.  Di pihak lain, kenyataan hidup menunjukkan bahwa hampir tidak ada orang msikin yang hidup sendiri tenpa memiliki sanak keluarga. Jika semua manusia mengindahkan arahan agama ini, niscaya tidak ada orang yang nasibnya terlantar, tidak akan timbul keresahan dan perselisihan, apalagi rasa hasud dan dendam di antara sesama manusia di bumi ini. Dalam hubungan ini Rasulullah bersabda:

اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ

“Tangan di atas (yang memberi) lebih baik dari tangan yan gdi bawah (yang menerima). Mulailah dari anggota keluarga yang menjadi tanggunganmu”.
Faktor kedua adalah bahwa manusia di samping memilki potensi pemurah, dermawan, juga mempunyai kecenderungan untuk bersifat kikir dan bakhil yang membuat manusia malas untuk memberikan jasa baik kepada orang lain dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Untuk menghilangkan sifat buruk ini perlu ada semcam latihan. Di sini, Islam melatih manusia untuk bermurah hati kepada manusia lainnya dimulai dari keluarga terdekat, sebelum diajak untuk berlatih memberikan bantuan kepada keluarga yang jauh dari anggota masyarakat yang lebih luas. Karena, adanya hubungan darah, ikatan kekeluargaan dan kesamaan keturunan akan lebih mudah mengetuk hati dan lebih gampang mendorong diri manusia untuk memberikan bantuan dan pertolongan.
Itulah shilaturrahim yang perlu dilakukan atas dasar hubungan kekeluargaan, bukan hubungan yang bersifat formal. Adapun dalam hubungan resmi, seperti untuk kepepntingan mengisi suatu jabatan di instansi pemerintahan dan memegang suatu kedudukan di lingkungan peradilan dan semisalnya, hubungan keluarga dan jalur persahabatan semata mesti dienyahkan. Pernah salah seorang sahabat terdekat Nabi yang bernama Abu Dzar meminta suatu jabatan kepada Nabi. Nabi menolaknya dengan bujaksana, seraya mengatakan bahwa jabatan atau kedudukan itu adalah amanat yang  akan mengakibatkan penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memang berhak dan mampu memangku jabatan tersebut dengan baik. Kepada sahabat lain yang bernama Abdurrahman bin Samrah, Nabi pernah mengatakan: “Engkau tidak usah meminta-minta kedudukan, sebab jika engkau  diberi kedudukan tanpa engkau minta berarti engkau akan memperoleh dukungan dan legitimasi yang kuat. Tetapi jika engkau memangku suatu jabatan atas dasar permintaanmu, engkau akan dibiarkan masyarakat tanpa mendapat dukungan”. Memang dalam sejarah, Rasulullah saw. dan para Khulafaurrasyidin ra. tidak pernah ada di antara mereka yang memberikan suatu kedudukan formal keapda anggota familinya. Seseorang yang diangkat dalam suatu jabatan didasarkan atas hak, kemampuan dan seringkali dengan musyawarah.
Demikianlah hubungan shilaturrahim yang perlu selalu kita kokohkan, yang karena kesibukan sehari-hari di kota metropolitan ini kadang-kadang terlupakan. Semoga peningkatan shilaturrahim di lingkungan  keluarga kita masing-masing akan banyak artinya dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita dan keluarga kita semua kepada Allah swt. Upaya kita dalam mempererat shilaturrahim merupakan salah satu amal salih yang berhak mendapat balasan berlipat ganda dari Allah swt. Amin. 
MENEPATI JANJI

Menpati janji merupakan akhlak mulia dan prilaku agung yang menuntut keberanian. Tidak ada akhlak yang lebih agung dari menepati janji ini. Karena, orang yang menepati janji berarti harus jujur terhadap Allah, jujur terhadap manusia dan jujur terhadap dirinya. Ia juga ia harus memegang amanah Allah, amanah manusia dan amanah yang dibebankan atas dirinya. Lebih dari itu, menepati janji termasuk salah satu taklif/beban syari’ah Islam yang terpenting di bidang mu’amalah. Ia dianggap sebagai landasan kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Bila seorang muslim mengucapkan suatu janji, ia wajib menunaikannya sekuat tenaga. Iman seseorang menuntut agar ia komitmen dengan ucapan dan janjinya. Allah memerintahkan kita agar menepati apa-apa yang kita janjikan. Dalam QS. Al-Isra’, Allah berfriman:
وأوفوا بالعهد إن العهد كان مسئولا
“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawaban.”
Upaya untuk  menepati janji, menuntut dua unsur penting dari setiap muslim, yaitu kekuatan kemauan dan kekuatan ingatan.  Yang pertama (kekuatan kemauan) berguna untuk mendorong seorang muslim menunaikan segala  apa yang dijanjikan. Sedangkan yang kedua (kekuatan ingatan) merupakan penolong dirinya untuk mengingat apa saja yang telah ia janjikan sehingga tidak ada janji yang terlupakan. Lemahnya kemauan dan lemahnya ingatan akan menghambat seseorang untuk memenuhi janjinya. Oleh sebab itu, ayat tentang janji pada surat al-An’am : 152, diakhiri dengan unsur pengingatan.

وبعهد الله أوفوا ذلكم وصاكم به لعلكم تذكرون

“Dan penuhilah janji Alla. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat”.
Menepati janji dianggap sebagai tolok ukur iman seseorang dan bukti kebenaran keyakinannya. Allah menyatakan sebagai berikut:

وأوفوا بعهد الله إذا عاهدتم ولا تنقضوا الأيمان بعد توكيدها وقد جعلتم الله عليكم كقيلا. إن الله يعلم ما تفعلون .

Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksi terhadap sumpah-sumpah itu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS. An-Nahl:91)
Derajat keimanan seseorang ditentukan oleh tinggi atau rendahnya derajat orang itu dalam menepati janjinya. Orang yang selalu menepati janjinya adalah orang yang paling mulia dan paling takwa di sisi Allah. Nabi Muhammad saw. merupakan  contoh dan teladan dalam hal menepati janji. Beliau sangat amanah dan selalu menepati janjinya sehingga diberi julukan al-amin (yang dipercaya), dan beliau dicintai oleh ummat manusia baik yang muslim maupun yang yang kafir pada saat itu. Allah telah menyanjung Nabi saw. dengan sanjungan hebat, yaitu sebagai orang yang berada di atas semua akhlak mulia. Allah berfirman:

إنك لعلى خلق عظيم

“Sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang mulia”. (QS. Al-Qalam: 4).
Janji yang dikaitkan dengan setiap muslim memiliki beberapa tingkatan. Peringkat tertinggi dan tersuci adalah janji yang diikat antara manusia dengan Allah swt. Sedangkan janji kepada manusia adalah derajat berikutnya. Allah telah menciptakan manusia dengan qudrah-Nya, memberinya kehidupan dan menghidupinya dengan nikmat yang tidak terhitung. Oleh karena itu, ia diharuskan untuk mengenali hakekat ini, mengakui-Nya dan mengabdi kepada-Nya. Allah menyatakan:
ألم أعهد إليكم يا بنى أدم ألا تعبدوا الشيطان إنه لكم عدو مبين .  و أن اعبدونى هذا صراط مستقيم
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku, inilah jalan yang lurus” (QS. Yasin: 60-61).
Memenuhi  janji dengan Allah ini bagi manusia adalah dasar kemuliaannya di dunia dan kebahagiaannya di akhirat kelak. Di antara bentuk memenuhi janji kepada Allah adalah mendukung agama Islam dan memperjuangkannya dengan harta dan jiwa. Sehingga, ia tidak sungkan-sungkan untuk menjadi  salah satu tentara Allah yang siap setiap saat dipanggil ke medan juang li I’lai kalimatillah, demi mendapatkan kemenangan, taufik dan rahmat-Nya.  Para sahabat Rasulullah saw. tidak pernah mencintai seseorang  lebih dari cintanya kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan Allah, meskipun dalam jihadnya tersebut harus berhadapan dengan orang-orang yang dicintainya, seperti keluarga atau saudara. Seorang mujahid bahkan tidak pernah menjalin pertalian apapun dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Allah menyatakan:
لا تجدوا قوما يؤمنون بالله اليوم الآخر يوادون من حآد الله ورسوله ولو كانوا آباءهم أو أبناءهم أو إخوانهم أو عشيرتهم
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka”. (QS. Al-Mujadilah: 22)
Memang benar bahwa berbuat baik kepada orang tua, anak-anak, atau saudara-saudara adalah kewajiban syara’ yang harus ditaati, namun dengan satu syarat, yaitu mereka tidak memusuhi Allah dan rasul-Nya. Bila mereka memusuhi Allah dan memushi umat Islam, maka tidak boleh berbuat baik kepada mereka. Saat itu, pertalian darah dan pertalian kerabat akan  terputus. Dalam kondisi demikian, tujuan ummat Islam hanyalah menolong agama Allah dan meninggikan kalimatullah dan memusuhi orang yang memusuhi Islam.
Menepati janji kepada Allah menuntut kita untuk menepati janji yang berkaitan dengan manusia, seperti menepati janji yang diikat dengan tali perkawinan. Seorang suami harus memenuhi janjinya kepada istrinya untuk memberi nafkah sesuai dengan kemampuannya, memberikan mu’asyarah bil ma’ruf (memperlakukan istri  dengan baik), memberikan kesempatan rileks bagi keluarganya, mendidik semua anak-anaknya secara Islam, dan sebagainya. Dalam QS. An-Nisa ayat 20-21, ikatan perkawinan disebut sebagai mitsaqan ghalizhan (ikatan janji yang berat), karena setiap suami dan istri sudah dijadikan  selimut dan kesenangan  bagi masing-masing dari mereka. Akad perkawinan ini melahirkan beberapa kewajiban timbal balik sesuai dengan keluasan atau kesempitan rizki suami. Istri berhak mendapatkan nafkah, tempat tinggal dan mendapatkan nafkah batin serta perlakuan baik. Sedangkan suami berhak ditaati dan dihormati, mendapatkan kepuasan batin dari istrinya, mendapatkan keteduhan dan sakinah, serta dijaga harta dan kehormatannya.
Di antara bentuk menepati janji dengan manusia adalah membayar hutang ketika sampai batas waktuyna, tanpa ada pengunduran sedikitpun. Bila tidak bisa membayar tepat waktu, harus meminta maaf kepada yang punya piutang. Namun pemilik piutang pun harus memaklumi kondisi yang berhutang. Bila tidak mampu, ia perlu memberikan masa pengunduran atau membebaskannya sama sekali sebagai sedekah.
Berkaitan dengan contoh orang yang menepati janji dengan manusia, patut dijadikan contoh  kisah Al-Harits bin Adi dengan Adi bin Rabi’ah.
Al-Harits bin Adi adalah seorang jago perang di medan laga. Pada suatu peperangan ia bisa menangkap Adi bin Rabi’ah yang belum dikenalnya sama sekali. Al-Harits berkata kepada tawanannya: “Tunjukkanlah aku Adi bin Rabi’ah”. Adi menjawab: “Bila aku tunjukkan anda kepada Adi bin Rabi’ah, apakah engkau akan melindungiku dan menjamin keselamatanku?” Al-Harits menjawab: Ya, saya berjanji akan melindungi engkau”. Adi berkata: “Akulah Adi bin Rabi’ah yang engkau cari”. Akhirnya Al-Harits melepaskan Adi karena sudah berjanji untuk menjamin keselamatannya.
Itulah sebuah contoh seorang yang kokoh berpegang pada ucpannya. Ia menepati janji walaupun ia harus melepaskan tawanan perang yang sudah lama diincarnya untuk ditangkap lalu dibunuh.
Ketika janji telah diucapkan seseorang, siapapun dia, maka ia harus menepati janji itu. “Janji adalah hutang” demikian bunyi sebuah pepatah Arab. Bila telah berjanji ia harus membayar janji itu sebagaimana ia harus membayar hutang.  Karena itu janji harus diupayakan seoptimal mungkin untuk ditepati, karena mengingkari janji adalah termasuk dalam sifat kemunafikan.
METODE PENDIDIKAN RASULILLAH SAW

الحمـد للـه الذى أرسل رسولـه بالـهـدى ودين الحـق ليظهره على الدين كله ، وأنزل عليه القرآن دستور أحـكامه، وتعبـد بتلاوتـه جميع أمتـه .
أشهد أن لا الـه الا اللـه وأشهـد أن محمـدا عبـده ورسولـه الذى أرسـله بشيرا ونذيرا . من يطـع اللـه ورسولـه فقـد رشـد ، ومن يعصـهما فـإنـه لا يضـر إلاّ نفسـه ولا يضـر اللـه شـيئا . اللـهم صل وسلم على أشرف المرسلين وسـيدهم محمـد صلى اللـه عليه وسلم وعلى آلـه وأصحـابـه أجمـعين .
أعـوذ باللـه من الشـيطان الرجـيم .
وليخش الذين لو تركـوا من خلفـهم ذريـة ضعـافا خافوا علـيهم، فليتـقوا اللـه وليقولـوا قولا سـديدا .  ( النساء : 9)
أما بعـد : فأوصـيكم عباد اللـه ونفسى بتقوى اللـه فقـد فاز المـتـقـون .

Hadirin sidang Jum’at yang berbahagia.
Mari kita panjatkan puji syukur kepada Allah Swt.
Salawat serta salam semoga Allah mencurahkannya kepada nabi Muhammad saw. beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya.
Mari kita sama-sama meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt.

Hadirin sidang Jum’at yang berbahagia.
Kita semua, baik sebagai orang tua,  sebagai pendidik, atau sebagai pemegang kebijakan dalam masalah pendidikan tentu berharap agar anak-anak kita yang sedang belajar atau menuntut ilmu diberi kemudahan dalam memperoleh ilmu dan diberikan kemanfaatan dari ilmu itu. Manfaat dari ilmu itu artinya, ilmu itu berguna bagi dirinya dan bagi orang lain. Itulah salah satu butir doa yang sering kita panjatkan kepada Allah Swt. yang berbunyi :
اللـهمَّ إنا نعـوذ بك من علمٍ لاينفـع
(Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat).

Hadirin sidang Jum’at yang berbahagia.
Masalah pendidikan, adalah masalah yang selalu aktual untuk dibicarakan baik oleh bangsa yang sudah maju maupun oleh bangsa yang belum maju, karena maju-mundurnya suatu bangsa, atau corak dan karakter suatu bangsa tergantung dari sistem pendidikan yang dilakukan bangsa itu.
Sehubungan dengan masalah pendidikan ini, khatib ingin mencoba menguraikan secara singkat “Metode Pendidikan Rasulillah saw”.
Islam sangat consern terhadap masalah pendidikan manusia, bahkan Islam menganjurkan pengikutnya untuk melaksanakan pendidikan kepada manusia sejak ia lahir sampai meninggal. Nabi bersabda:
اطلب العلم من المـهد الى اللحــــد .
(Tuntutlah ilmu sejak dari buaian ibu sampai masul liang lahat).
Bahkan jauh-jauh hari sebelum seseorang menikah,  ia dianjurkan untuk memilih bakal calon pasangan hidupnya atau pendampingnya yang shalih atau shalihah. Karena dari bibit yang unggul inilah akan lahir manusia-manusia berkualitas, sehingga ummat Islam dapat tampil sebagai pemimpin peradaban.
Sejarah mencatat bahwa Rasulullah saw. dalam waktu kurang dari seperempat abad telah berhasil secara gemilang mendidik bangsa Arab dari bangsa yang musyrik menjadi bangsa yang bertauhid, dari bangsa yang beringas menjadi bangsa yang lemah lembut, dari bangsa yang kurang berperadaban menjadi bangsa yang berperadaban, dari bangsa yang gemar bermusuhan menjadi bangsa yang cinta damai, dari bangsa yang pasif menjadi bangsa yang aktif. Sikap ini digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya:
وكـنتم على شـفا حفـرة من النـار فأنقـذكم مـنها . (آل عمران : 103 )
“Dulu kamu berada di tepi jurang neraka, akhirnya Islam (Muhammad) dapat menyelamatkanmu dari bahaya itu”.
Dan akhirnya mereka dalam sekejap, menjadi pemimpin dunia, disegani oleh manusia di belahan timur maupun di belahan barat. Keadaan ini diakui oleh al-Qur’an sebagai berikut:
كـنتم خير أمـة أخرجت للـناس تأمرون بالمعـروف وتنـهون عن المنـكر . (آل عمران : 110 )
“Kamu semua adalah ummat terbaik yang ditampilkan kepada manusia untuk menyerukan kebaikan dan mencegah kemunkaran”.

 Hadirin sidang Jum’at yang berbahgia.
Melihat keberhasilan Rasulillah ini, tentu kita semua ingin tahu, kiat apa yang dimiliki Rasul sehingga dalam waktu singkat beliau berhasil dengan gemilang  mendidik dan merubah watak manusia seperti di atas ?
Bila kita baca sejarah perjalanan Rasulillah saw. maka dapat kita tangkap bahwa banyak faktor yang membuat Rasul berhasil dalam mendidik kaumnya menjadi bangsa yang layak menjadi teladan bagi bangsa-bangsa  lain. Namun faktor yang paling penting adalah faktor keteladanan dengan akhlak mulia, di mana Rasulullah saw. dalam mendidik kaumnya selalu menggunakan pendekatan akhlak yang mulia. Di antara akhlak Rasul yang mulia itu adalah, sikap shidiq (benar), amanah (jujur), shabar (tabah), dan rahmah (kasih sayang).
Pertama akhlak shidiq dan amanah.
Dapat kita bayangkan bagaimana jadinya kaum Quraisy pada saat peristiwa peletakan kembali Hajar Aswad, bila tidak ada seorang pemuda yang cerdas dan jujur yang bernama Muhammad dalam bertindak dan bersikap, sehingga pertumpahan darah yang nyaris terjadi bisa dihindari, bahkan semua pihak merasa puas dengan tindakannya itu. Kalau saja Muhammad seorang yang ambisius dan tidak tahu amanah, tentu masalah itu akan beres, cukup dengan mengangkat Hajar Aswad itu oleh tangannya sendiri. Tapi Muhammad bukanlah seorang yang suka menggunakan aji mumpung, mumpung dipercaya, maka semuanya dikerjakan sendiri. Sikap amanah ini  tentu bardampak positif kepada sahabat-sahabat pengikutnya dalam melaksanakan tugas kekhilafahan. Beliau mengidentikkan orang yang tidak bersikap amanah dengan orang yang tidak beragama:
لا دين لمـن لا أمـانـة لـه .
“Tidak ada agamanya bagi orang yang tidak berlaku amanah”.

Kedua , akhlak shabar.
Kalau kita mencari padanan manusia yang memiliki sifat sabar seperti Muhammad saw. pasti tidak akan menemukannya kendati dibandingkan dengan seorang Nabi Ayyub as. Beberapa peristiwa menunjukkan betapa besar kesabaran dan ketabahan Muhammad saw. ketika beliau menghadapi kaumnya yang keras kepala, enggan diajak kepada jalan yang benar. Bagaimana tabahnya Muhammad ketika datang ke penduduk Taif untuk mengajak mereka bertauhid, hanya menyembah Allah, namun mereka menyambutnya dengan cercaan, bahkan mengusir kembali Muhammad beserta sahabatnya dengan tindakan yang tidak manusiawi. Bahkan perlakuan mereka kepada Muhammad saw. dan para sahabatnya (menurut suatu riwayat) membuat malaikat Jibril geregetan sambil menawarkan jasa kepada Muhammad. Hai Muhammad ! Katakanlah kepadaku, apa yang kau inginkan dari  tindakan mereka itu ? Andai kau suruh aku membalikkan gunung itu untuk mengubur mereka hidup-hidup, aku siap melaksanakannya. Namun dengan senyum Muhammad menjawab: “Tidak”, biarkan mereka, kemudian berdoa:
اللـهم اهـد قومى فانــهم لا يعلمــون .
“Ya Allah, berilah petunjuk kaumku, sebab mereka tidak mengerti”.

Hadirin sidang Jum’at yang berbahagia.
Ketiga, sifat rahmah (kasih sayang) .
Kiat ketiga yang dimiliki Rasulullah saw. sehingga beliau berhasil dalam mendidik ummatnya adalah sifat rahmah (kasih sayang) yang selalu menghiasi segala sepak terjangnya. Sifat kasih sayang yang dimiliki Rasul memang sudah dibentuk oleh Allah Swt. dalam dirinya dengan cara alamiah melalui keberadaannya yang yatim sejak ia lahir. Dengan keadaan yatim sejak lahir, beliau sudah ditempa untuk hidup mandiri dan merasakan bagaimana rasanya seorang anak yang tidak mempunyai tempat pengaduan urusan hidupnya, sehingga di kala teman-temannya yang lain mengaduh “hai Bapak”, beliau hanya bisa mengadu “wahai Tuhanku”. Dari situlah tumbuh sifat kasih sayangnya kepada orang lain, karena beliau sendiri merasakan bagaimana rasanya bila dikasihi dan disayangi orang lain. Banyak ungkapan-ungkapan yang beliau kemukakan tentang kasih sayang ini, misal:
- الراحـمـون يرحـمـهم الرحـمن .
“Orang-orang yang suka menyayangi orang lain akan disayangi Allah”.
-ارحـمـوا من فى الأرض ، يرحـمـكم من فى السماء .
“Sayangilah makhluk yang ada di bumi, kau akan disayangi Dzat yang ada di atas”.
Betapa kasih sayangnya Rasul kepada ummatnya, ketika datang seorang pemuda meminta izin kepada beliau untuk berzina . Ia elus-elus pemuda itu dengan penuh kasih sayang kebapaan, sambil menyentuh perasaannya. Beliau katakan kepadanya: Anakku, relakah manakala perzinahan itu menimpa ibumu ? bibimu ? saudarimu ? anakmu ? dan seterusnya. Seketika itu pula pemuda itu menangis dan mohon ampun.
Betapa besar kasih sayang Rasul kepada ummatnya ketika beliau dan para sahabatnya berhasil merebut kota Mekah sementara orang-orang kafir Quraisy tidak mempunyai kemampuan untuk melawan, beliau tidak mengadakan balas dendam kepada mereka yang telah menyakiti dan mengusirnya. Bahkan ketika orang-orang kafir itu bertanya-tanya, balasan apa yang akan mereka terima dari orang yang telah diusir dan disakitinya?
Beliau mengatakan:
اذهـبوا فأنـتم الطلـقاء
“Pergilah kalian semua, karena kalian bebas”.
Itulah Muhammad seorang Rasul yang luar biasa kasih sayangnya, beliau bukan seorang yang pendendam, bukan seorang yang otoriter dan sombong, padahal segala keputusan pada saat itu ada di tangannya. Dia tahu persis siapa yang mengusirnya dulu, siapa yang berperan aktif di dalam perang Badar, siapa yang memukulnya, dan membunuh pamannya Hamzah pada perang Uhud, dan tokoh-tokoh kafir Quraisy yang berperan dalam peperangan lainnya. Namun seperti kita saksikan dalam sejarah sikap kasih sayang yang beliau tunjukkan itu, dampak positifnya luar biasa terhadap perkembangan Islam dam sikap kaum maslimin pengikutnya. Sikap kasih sayang beliau ini pun dapat dukungan dari Allah, seperti firman-Nya:
فبما رحـمـةٍ من اللـه لنتَ لـهم ولو كـنتَ فـظا غلـيظ القـلب لانفضـوا من حولك .
(آل عمران 159)
“Karena rahmah (sifat kasih sayang) dari Allahlah, kamu bersikap lembut kepada mereka. Dan seandainya kamu bersikap kaku dan keras hati pasti mereka akan menjauh darimu”.
Itulah sentuhan-sentuhan kasih sayang yang diperlihatkan Rasulullah saw. dalam mendidik ummatnya untuk menjadi umat yang terbaik, yang layak memimpin dunia. Dan memang dunia ini hanya layak dikelola dan diwarisi oleh orang-orang yang baik.
إنّ الأرضَ يَرِثُــها عـبادىَ الصالحــون . ( الأنبياء : 105 )
“Sesungguhnya bumi ini  hanya bisa dikelola oleh hamba-hambaku yang shalih atau baik”.

Hadirin sidang Jum’at yang berbahagia
Inti dari sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah saw. dalam mendidik ummatnya adalah keteladan yang ada pada diri beliau. Beliau adalah figur keteladanan yang paripurna bagi semua manusia. Di dalam kepribadian beliau terkumpul seluruh asfek keutamaan pribadi manusia yang agung. Namun demikian, dengan kesempurnaan yang dimiliki, bukan berarti beliau hanya sebagai tokoh dalam bayangan yang tidak bisa diteladani. Justru beliau merupakan teladan bagi siapa saja. Beliau adalah sosok remaja yang berkualitas, suami yang bertanggung jawab, bapak yang penuh kasih, pemimpin yang adil, panglima perang yang tangguh, ahli strategi yang canggih, pedagang yang ulung dan jujur, pemikir yang brilian, dan pendidik yang bijak. Allah berfirman :
- وإنّك لعـلى خُلُـقٍ عظـيم. ( القلم : 4)
“Sesungguhnya kau Muhammad berada di puncak akhlah yang agung”.
- لقـد كان لكم فى رسول اللـه أسـوةٌ حسـنة . ( الأحزاب : 21)
“Sungguh pada diri Rasulillah itu ada  keteladanan yang baik bagi kamu semua”.
Hadirin sidang Jum’at yang berbahagia.
Dewasa ini, keteladanan sudah sangat langka kita jumpai pada diri mereka yang selayaknya menjadi contoh bagi orang lain. Tidak sedikit guru yang mestinya menjadi orang yang digugu dan ditiru, tapi sikap perbuatannya bahkan menjadi comoohan dan membuat bingung murid-muridnya. Para pemimpin formal maupun nonformal yang mestinya menjadi panutan ummat, namun sebaliknya mereka bahkan menjadi buah obrolan negatif di setiap kerumunan mereka. Para penegak hukum yang diharapkan menjadi tumpuan para pencari keadilan, tapi justru mereka menjauhinya dan mencarinya di jalanan bersama para demonstran. Para orang tua yang seharusnya menjadi tempat pengaduan berbagai masalah putra putrinya, justru mereka menghindar dan mengadukan segala permasalahnnya kepada pak ganja, pak ektasi, pak nipam, dan pak-pak narkoba lainnya.    

Hadirin sidang Jum’at yang bebahagia.
Gejala apakah ini ? Tiada lain, ini semua adalah akibat krisis yang akut dalam keteladanan dari semua pihak yang mestinya menjadi teladan. Oleh karena itu, mari kita semua, apakah sebagai pendidik, sebagai pemimpin, sebagai orang tua, atau sebagai apa saja, kita tunjukkan keteladan kita kepada orang yang mengharap keteladan dari kita, dengan berpedoman kepada keteladan yang ditunjukkan Rasulullah saw. kepada ummatnya.
أقول قولى هـذا وأستغفر اللـه لى ولكم انـه هو الغفـور الرحـيم .


NALURI DASAR MANUSIA

UNTUK BERAGAMA DAN BERTUHAN


Manusia dilahirkan ke muka bumi bukanlah dalam keadaan kosong melompong, tetapi di dalam jiwanya sudah tertanam iman dan tauhid kepada Allah swt. Iman dan tauhid itu terpateri sejak manusia berada di alam ruh. Itulah yang disebut dengan fitrah. Dengan demikian, naluri dasar manusia sesungguhnya adalah beragama dan bertuhan. Di dalam surat al-A`raf (7) ayat 172 Allah swt. berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Ayat ini dengan sangat jelas menegaskan bahwa Allah swt. mengambil kesaksian kepada setiap jiwa manusia sebelum manusia itu dilahirkan. Isi dari kesaksian tersebut tidak lain kecuali iman dan tauhid. Dengan demikian, sebelum dilahirkan, setiap orang sebenarnya sudah mengenal siapa Tuhannya, percaya kepada-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya. Inilah fitrah manusia dan merupakan naluri dasar yang tertanam di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Karena itu, jika ada orang yang tidak beragama, tidak bertuhan, atau tidak beriman kepada Allah swt. sesungguhnya ia telah menyimpang dari fitrahnya dan mengingkari naluri dasar yang ada di dalam dirinya sendiri.
Agama yang sesuai dengan fitrah manusia itu hanyalah Islam. Agama inilah yang benar-benar mentauhidkan Allah swt. dalam arti yang sesungguhnya; agama yang lurus dan diridai Allah swt. Di dalam surat ar-Rum (30) ayat 30, Allah swt. berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ (الروم:30)
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Pada ayat yang lain, surat Ali Imran (3) ayat 19 Allah menegaskan:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ.
Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Selanjutnya pada surat al-Maidah (5) ayat 3 Allah menyatakan:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا.
Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan Aku rida Islam itu menjadi agama bagimu. 

Di dalam ayat yang lain Allah menegaskan, orang yang mencari agama selain Islam akan ditolak dan di akhirat kelak ia akan menderita kerugian. Firman Allah di dalam surat  Ali Imran (3) ayat 85:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
Barangsiapa mencari agama selain Islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanyar, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.

Meskipun naluri dasar manusia adalah beragama dan bertuhan, fitrah manusia adalah beriman dan bertauhid, namun di dalam perjalanan hidup sesudah manusia lahir, banyak faktor yang mempengaruhi sehingga bukanlah hal yang mustahil jika ada orang yang menyimpang dari fitrahnya. Realitas kehidupann umat manusia menunjukkan banyak di antara mereka yang tidak beriman kepada Allah swt., bahkan tidak sedikit pula yang tidak percaya kepada eksistensi Tuhan (atheis). Semua itu terjadi karena kuatnya pengaruh yang timbul di lingkungan tempat mereka menghirup udara dunia.
Salah satu faktor terpenting dan sangat menentukan terpelihara tidaknya fitrah seseorang sehingga ia tetap berada di dalam agama yang ¥an³f (lurus) atau tidak adalah orang tuanya sendiri. Orang tualah yang sangat berperan membentuk pribadi, sikap, dan keberagamaan seorang anak. Dalam kaitan ini Rasulullah saw. bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. (متفق عليه).
Tidak seorang anak pun dilahirkan kecuali ia berada di dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusyi. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Karena orang tua sangat berperan di dalam pemeliharaan fitrah seorang anak, maka di dalam ajaran Islam, siapa pun yang memiliki anak diwajibkan memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya sejak dini. Kewajiban itu bersifat mutlak dan tidak ada alasan apa pun yang dapat dibenarkan bagi orang tua untuk tidak melakukannya.  Jika seseorang tidak memberikan pendidikan agama kepada anaknya, ia berdosa dan akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah swt.
Kewajiban tersebut antara lain tercermin di dalam firman Allah swt. pada surat at-Tahrim (66) ayat 6:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ(6)
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Dalam rangka pendidikan agama terhadap anak itu pulalah Rasulullah saw. memerintahkan orang tua memukul anaknya yang tidak mau salat apabila anak itu berusia 10 tahun. Perintah ini sangat menarik karena tidak ada satu sabda Rasul pun yang menyuruh orang tua memukul anaknya selain mengenai masalah ini. Beliau bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ. (رواه أبو داود)
Perintahkan anak-anakmu bersembahyang pada saat mereka berusia tujuh tahun; pukullah jika mereka tidak mengerjakan shalat pada saat mereka berumur 10 tahun, dan pisahkanlah di antara mereka di tempat tidur. (Riwayat Abu Daud).

Pada sisi yang lain, Islam juga mewajibkan pemeluknya untuk berusaha memelihara fitrahnya sehingga ia selalu berada di dalam iman kepada Allah swt. Setiap muslim wajib memelihara dan mempertahankan imannya dengan cara apa pun, sekalipun harus mengorbankan harta dan jiwa. Iman merupakan nikmat paling besar dari semua nikmat yang diberikan Allah swt. kepada umat manusia, lebih besar daripada harta benda, pangkat, jabatan, atau kemegahan dunia lainnya. Karena itu, Islam mengajarkan: jangan korbankan iman demi harta benda, jangan dilepas iman demi pangkat atau jabatan, dan jangan tinggalkan iman hanya karena kecantikan seorang wanita.
Godaan dan rayuan yang dapat menggoyahkan iman manusia memang sangat banyak; datang dari berbagai penjuru. Jika seorang muslim tidak waspada dan hati-hati, imannya bisa terlepas, apalagi iblis dan setan tidak pernah tinggal diam. Mereka selalu berusaha agar manusia terjerumus ke dalam lembah kesesatan. Allah swt. memperingatkan hal tersebut dengan firman-Nya di dalam sebuah hadis qudsi:

إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاء فَجَاءَتْهُمَْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ . (رواه مسلم)
Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku di dalam agama yang lurus, lalu datang setan mengalihkan mereka dari agama mereka dan mengharamkan sesuatu yang telah Kuhalalkan bagi mereka. (Hadis riwayat Muslim).

Mudah-mudahan Allah swt. memberikan taufiq dan hidayah kepada kita semua sehingga kita dapat memelihara iman, tetap berada di dalam fitrah, dan dapat melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan Tuhan sebaik-baiknya.  Am³n y± Rabb al-²lam³n.


ZAKAT FITRAH: WAHANA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN UMMAT

Pada saat-saat menjelang hari raya Idul Fitri ini, Allah telah mensyariatkan/menetapkan suatu ibadah  sebagai penyempurna amal ibadah Ramadhan, yaitu Zakat Fitri.
Zakat Fitri adalah mengeluarkan makanan yang biasa dijadikan sebagai bahan  makanan pokok di suatu negeri; dan bagi masyarakat muslim Indonesia adalah beras, sebanyak kurang lebih 2,5 kg, yang dibagi dan diperuntukkan untuk para fuqara dan masakin sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri. Nama lain dari zakat fitri ini antara lain, zkat shaum, sadaqah fitri, sadaqah Ramadhan, zakat al-abdan, dan sadaqah al-ruus. Zakat ini disyariatkan pertama kali pada tahun kedua Hijrah.
Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitri pada bulan Ramadhan sebagai penyucian diri bagi orang yang berpuasa dari perbuatan fakhsya yang mungkin dilakukannya saat berpuasa.  Zakat Fitri dianggap  sebagai penambal celah-celah bolong  yang terjadi pada waktu berpuasa, sebagaimana halnya sujud sahawi dapat dianggap sebaga ipenambal celah-celah bolong karena lupa ketika shalat. Zakat Fitri juga merupakan usaha untuk mencegah orang-orang fakir dan miskin dari meinta-minta pada Hari Raya, sekaligus menumbuhkan perasaan gembira bagi mereka, merasakan keagungan Islan, kedermawanan sosial, dan pengakuan kemanusiaan mereka.
Dalam hadis disebutkan:
فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصايم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين فمن اداها قبل الصلاة فهى زكاة مقبولة, ومن اداها بعدالصلاة فهى صدقة من الصدقات.
Rasulullah Saw. mewajibkan Zakat Fitri untuk mensucikan orang yang puasa dari perbuatan iseng dan ucapan yang tidak baik, disamping untuk memberi makan orang-orang miskin.  Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat Id maka dianggap zakat yang diterima.  Dan barangsiapa yang menunaikannya sesudah shalat Id maka dianggap sedekah biasa seperti sedekah-sedekah yang lain.

Zakat adalah salah satu rukun Islam dan berfungsi sebagai tiang pokok ajaran Islam.  Di dalam al-Quran cukup banyak disebutkan perintaqh zakat serangkai dengan perintah shalat.  Sebanyak 16 kali kata  اقيمواالصلاة berulang dalam al-Quran, 8 kali di antaranya digandengkan dengan kata اتواالزكاة.  Oleh karena itu, paling tidak, dipahami bahwa kewajiban zakat setara kuatnya dengan hukum perintah shalat.  Misalnya saja, Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2): 43:
واقيمواالصلاة واتواالزكاة واركعوامع الراكعين
Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku
            Jadi, zakat hendaknya dapat membangun dan menciptakan kesadaran untuk tidak sekedar memberi, tetapi diharapkan lebih dari itu.  Ia harus menjadi mitra bagi kaum dhuafa yang biasanya sering dikesampingkan hak-hak mereka untuk memperoleh keadilan sosial.  Lagi pula, pemberian ala kadarnya yang bergaya sinterklas justru semakin mengukuhkan suatu bentuk kesadaran imitasi yang membuat mereka bersifat pasrah pada nasib buruk dan berprilaku menunduk-nunduk.
            Memang risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. adalah untuk mengatur hidup dan kehidupan manusia di dunia, bukan untuk menjauhi dan mengingkari dunia.  Misi yang dibawa Nabi Muhammad justru untuk mendorong, memotivasi, dan bahkan memerintahkan agar umat manusia mencari dan menggali karunia Allah yang tersedia di alam raya ini, untuk kemudian dimanfaatkan dan dinikmati.  Sebagaimana firman Allah di dalam QS. Al-Qashash (28): 73:
ومن رحمته جعل لكم اليل والنهار لتسكنوا فيه ولتبتغوا من فضله ولعلكم تشكرون.
Dan sebagian dari rahmat Allah itu (adalah) menjadikan bagi kalian malam untuk beristirahat dan siang untuk berusaha, agar memperoleh karunia-Nya, dan mudah-mudahan kalian bersyukur (kepada-Nya).
            Akan tetapi, patut dihargai bahwa disamping manusia didorong untuk mempunyai gairah dalam berusaha mencari dan menggali segala pemberian Allah yang dibentangkan di bumi ini untuk meningkatkan taraf hidupnya, Allah Swt. juga mengutuk karunia Allah itu hanya dinikmati oleh segelintir atau sebagian mahluk-Nya, sedangkan sebagian yang lain tidak mendapat bagian dan kesempatan untuk menikmatinya. Akibatnya, timbullah jurang pemisah antara golongan yang kuat dengan kekayaan yang melimpah ruah dan tidak memperoleh tingkat hidup yang layai untuk memenuhi persyaratan minimal baig kehidupan manusia.  Dalam hal ini, Allah SWT. mengaskan di dalam QS. ALHUMAZAH (104): 1-4:
ويل لكل همزة لمزة . الذى جمع مالا وعدده . يحسب أن ماله أخلده . كلا لينبزن فى الحطمة
Celakalah bagi pengumpat dan penista (pencela); yang menumpuk-numpuk harta benda dan menghitung-hitungnya; Ia mengira harta bendanya itu akan kekal memlihara dia; Tidak! Sekali-kali tidak Ia (benar-benar) akan dilemparkan ke dalam neraka Hurthamah.
Begitu pula, didalam QS. At-Takatsur (102) : 1-3:
ألهاكم التكاثر . حتى زرتم المقابر . كلا سوف تعلمون
Kamu telah dilalaikan dalam perlombaan memperbanyak harta benda; sehingga kalian masuk ke liang kubur; jangan begitu, (Sebab) nanti kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian)
Melalui ayat-ayat di atas, sesungguhnya Allah telah memperingatkan agar manusia tidak membuat bencana bagi dirinya sendiri dengan cara menumpuk-numpuk harta bagi diri dan kelompoknya. Tanpa ada pembagian pendapatan secara merata.  Mereka tidak sadar bahwa penumpukan kekayaanya itu dilakukan dengan daa upayanya untuk kebahagiaannya sendiri, tanpa memperlihatkan nasib orang lain
Banyak ayat Al-Quran yang memerintahkan pembagian rezeki secara merata, seperti ditegaskan di dalam QS. AL-Isra (17):  26:
وءات ذا القربى حقه والمسكين وابن السبيل ولا تبذر تبذيرا
Berikan haknya para kerabat (keluarga terdekat), orang-orang miskin dan orang-orang yang kehabisan dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburkan harta secara boros (yang tidak ada gunanya)
Dalam pada itu, kewajiban mengeluarkan zakat merupakan pembagian kembali pendapatan yang diperoleh dari usahanya untuk di berikan kepada kaum fakir dan miskin.
Tegasnya, zakat, tidak terkecuali bahkan utamanya Zakat Fitri, harus memiliki fungsi sosial cultural, yakni ditemukannya juga suatu cara untuk meningkatkan kesejahteraan umat. Kita tidak hanya memandang pemanfaatan kaum dhuafa, tetapi secara sedikit demi sedikit, dalam bulan suci Ramadhan social masyarakat.  Dengan mengelauarkan zakat, insya Allah kesejahteraan umat bisa merata dan keadilan sicial masyarakat dapat terwujud, karena kedua belah pihak saling mengisi.

URGENSI ZIKIR PADA ZAMAN MODERN



Fenomena Zaman  Modern
Zaman modern ditandai dengan dua hal sebagai cirinya, yaitu (1) Penggunaan teknologi dalam berbaga aspek kehidupan manusia, dan (2) Berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai wujud dari kemajuan intelektual manusia. Manusia modern idealnya adalah manusia yang berfikir logis dan mampu menggunakan  berbagai teknologi untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dengan kecerdasan dan bantuan teknologi, manusia modern mestinya lebih bijak dan arif, tetapi dalam kenyataannya banyak manusia yang kualitas kemanusiaannya lebih rendah dibanding kemajuan berfikir dan teknologi yang dicapainya. Akibat dari ketidakseimbangan adalah gangguan kejiwaan. Celakanya lagi, penggunaan alat transportasi  dan alat komunikasi modern menyebabkan manusia hidup dalam pengaruh global dan dikendalikan oleh arus informasi global, padahal kesiapan mental manusia secara individu bahkan secara etnis tidaklah sama.
Akibat dari ketidakseimbangan itu dapat dijumpai dalam realita kehidupan. Banyak manusia yang sudah hidup dalam lingkup peradaban modern dengan menggunakan berbagai teknologi – bahkan teknologi tinggi - sebagai fasilitas hidupnya, tetapi dalam menempuh kehidupan, terjadi distorsi-distorsi nilai kemanusiaan, terjadi dehumanisasi yang disebabkan oleh kapasitas intelektual, mental, dan jiwa, yang tidak siap untuk mengarungi samudera atau hutan peradaban modern.
Ketidakberdayaan manusia bermain dalam pentas peradaban modern yang terus melaju tanpa dapat dihentikan itu menyababkan sebagain besar “manusia  modern” itu terperangkap dalam situasi yang menurut istilah Psikolog Humanis terkenal, Rollo May disebut sebaga “Manusia dalam Kerangkeng”, satu istilah yang menggambarkan salah satu derita manusia modern.
Manusia modern seperti itu sebanrnya adalah manusia yang sudah kehilangan  mankna, manusia kosong. The Hollow  Man. Ia resah setiap kali harus mengambil keputusan, ia tidak tahu apa yangiinginkan, dan tidak mampu memilih  jalan hidup yang diinginkan. Mereka mengidap gejala ketasingan, alienasi yang disebabkan oleh (a) perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat, (b) hubungan antar manusia sudah berubah menjadi hubungan yang gersang, (c) lembaga tradisionil sudah berubah menjadi lembaga rational, (d) masyarakat yang jomogen sudah berubah menjadi heterogen,  dan  (e) stabilitas sosial berubah menjadi mobilitas sosial.
Situasi psikologis dalam sistem sosial yang mengkungkung manusia modern itu bagaikan kerangkaeng yang sangat kuat, yang membuat penghuni di dalamnya tak lagi mampu berfikir untuk mencari jalan keluar dari kerangkeng itu. Orang merasa tak berdaya untuk melakukan upaya  perubahan, kekuasaan (sistem) politik terasa bagaikan hantu yang susah diikuti standar kerjanya, ekonomi dirasakan tercengkran oleh segelitnir orang yang bisa amat leluasa mempermainkannya sekehendak hati mereka, bukan kehendaknya, dan nilai-nilai luhur kebudayaan sudah menjadi komoditi pasar yang fluktuasinya susah diduga.
Bagaikan orang yang telah lama terkurung dalam kerangkeng, manusia modern menderita frustrasi dan berada dalam ketidakberdayaan, powerlessness. Ia tidak mampu lagi merencanakan masa depan, ia pasrah kepada nasib karena merasa tidak berdaya apa-apa. Rakyat acuh tak acuh terhadap perkembangan politik, pegawai negeri merasa hanya kerja rutin, dan hanya mengerjakan yang diperintah dan yang diawasi oleh atasannya .
Kerangkeng lain yang tidak kalah kuatnya adalah kehidupan sosial. Manusia modern dikerangkeng oleh tuntutan sosial. Mereka merasa sangat terikat untuk mengikuti skenario sosial yang menentukan  berbagai kriteria dan mengatur berbagai keharusan dalam kehidupan sosial. Seorang isteri pejabat merasa harus menyesuaikan diri dengan jabatan suaminya dalam hal pakaian, kendaraan, assesoris, bahkan sampai pada bagaimana tersenyum dan tertawa. Seorang pejabat juga merasa harus mengganti  rumahnya, kendaraannya, pakaiannya, kawan-kawan pergaulannya, minumannya, rokoknya, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya agar sesuai dengan skenario sosial tentang pejabat. Kaum wanita juga dibuat sibuk untuk mengganti kosmetiknya, mode pakaiannya, dandanannya, meja makan dan piring di rumahnya, untuk memenuhi trend yang sedang berlaku.
Manusia modern begitu sibuk dan bekerja keras melakukan penyesuan diri dengan trend modern. Ia merasa sedang berjuang keras memenuhi keinginannya, padahal sebenarnya mereka diperbudak oleh keinginan orang lain, oleh keinginan sosial. Ia sebenarnya mengejar apa yang diharapkan oleh orang lain agar ia mengejarnya. Ia selalu mengukur perilaku dirinya dengan apa yang ia duga sebagai harapan orang lain. Ia boleh jadi memperoleh kepuasan, tetapi kepuasan itu sebenarnya kepuasan sekejap, yakni kepuasan dalam mempertontonkan perilaku yang dipesan oleh orang lain. Ia tak ubahnya pemain sandiwara di atas panggung yang harus tampil prima sesuai dengan perintah sutradara, meskipun boleh jadi ia sedang kurang sehat.
Begitulah manusia modern, ia melakukan sesuatu bukan karena ingin melakukannya, tetapi karena merasa orang lain menginginkan agar ia melakukannya. Ia sibuk meladeni keinginan orang lain, sampai ia lupa kehendak sendiri. Ia memiliki ratusan topeng sosial yan siap dipakai dalam berbagai event dengan skenario sosial, dan saking seringnya menggunakan topeng sampai ia lupa wajah asli miliknya. Manusia modern adalah manusia yang sudah kehilangan jatidirinya, perilakunya sudah seperti robot, tanpa perasaan. Senyumnya tidak lagi seindah senyuman fitri seorang bayi, tetapi lebih sebagai make up. Tawanya  tidak lagi spontan seperti tawa ceria kanak-kanak dan remaja, tetapi tawa yang diatur sebagai bedak untuk memoles kepribadiannya. Tangisannya tidak lagi merupakan rintihan jiwa, tetapi lebih merupakan topeng untuk menutupi borok-borok akhlaknya, dan kesemuanya sudah diprogramkan kapan harus tertawa dan kapan harus menangis.
Sebagai akibat dari sikap hipkrit yang berkepanjangan, maka manusia modern mengidap gangguan kejiwaan antara lain berupa  (a) Kecemasan, (b) Kesepian, (c) Bebosanan, (d) Perilaku menyimpang (e) Psikosomatis.

SOLUSI KRISIS
Secara alamiah manusia merindukan kehidupan yang tenang dan sehat, baik jasmani maupun rohani. Pada masyarakat Barat modern atau masyarakat yang mengikuti peradaban Barat yang sekuler, solusi yang ditawarkan untuk mengatasi problem kejiwaan itu dilakukan dengan menggunakan pendekatan psikologi, dalam hal ini Kesehatan Mental (Mental Health). Sedangkan pada masyarakat Islam, karena mereka (kaum muslimin) pada awal sejarahnya tidak mengalami problem psikologis seperti yang dialami oleh masyarakat Barat, maka solusi yang ditawarkan lebih cenderung bersifat relegius spirituil, yakni tasauf dan akhlak.

TASAUF SEBAGAI SOLUSI KRISIS
Krisis keruhanian sebenarnya berkaitan erat dengan pandangan hidup seseorang. Pandangan hidup yang salah akan mengakibatkan logika yang salah dalam merespon realita. Pandangan hidup menyangkut tujuan hidup, tugas hidup, fungsi  hidup, alat untuk hidup, teladan dalam hidup, lawan dan kawan dalam hidup. Orang yang memiliki rasa dengki kepada orang lain, pasti disebabkan karena keliru memandang  masalah. Demikian juga orang yang mau mengorbankan kehormatan demi harta atau jabatan pasti disebabkan karena keliru menilai kedudukan harta dan jabatan. Perbedaan pandangan hidup dapat mengakibatkan perbedaan pandangan tentang makna kenikmatan dan penderitaan, keberhasilan dan kegagalan, besar dan kecil, penting dan tidak penting serta ketenangan dan kegelisahan.
Manusia adalah makhluk yang berfikir dan merasa. Bertasauf artinya menghidupkan hubungan rasa antara manusia dengan Tuhan. Berbeda dengan kesadaran intelektual tentang adanya Tuhan yang belum tentu mendatangkan ketenangan jiwa, kesadaran rasa berhubungan dengan Tuhan akan menempatkan seseorang dalam harmoni sistem sunnatullah. Bagi orang yang sudah sampai pada stasion ridha, atau ma`rifat, apalagi mahabbah, pastilah tak akan terganggu oleh perubahan zaman hidupnya, karena pusat perhatiannya tidak lagi kepada yang berubah, tetapi kepada yang tetap tak berubah, yaitu Allah swt.  Kesadaran rasa berhubungan dengan Tuhan dapat memupuk fitrah keberagamaan yang hanif dan mempertajam bashirah sehingga seseorang selalu tergelitik untuk memperdekat dirinya atau (taqarrub) kepada Allah.
Kesadaran merasa berhubungan dengan Tuhan itulah yang disebut zikir. Secara sederhana zikir memang bisa difahami sebagai pekerjaan  selalu menyebut nama Allah; ada yang dengan hitungan sebelas, tiga puluh tiga, sembilan puluh sembilan, bahkan ada yang ribuan. Untuk mempermudah menghitung lalu digunakanlah alat berupa tasbih. Tetapi zikir yang sebenarnya bukanlah itu. Zikir adalah kesadaran selalu berhubungan dengan Allah, sehingga zikir adalah aktivitas mental, bukan aktivitas mulut. Meski demikian, kita dapat memahami bahwa zikir dalam bentuk aktivitas mulut adalah permulaan dari zikir sebagai aktivitas mental. Shalat kita, perjalanan kita, pekerjaan kita, semua pada hakikatnya adalah wujud dari zikir itu sendiri. 


TAUBAT: Pintu Pertama
Menuju Jalan Spiritualitas

MUKADDIMAH
Manusia dalam pergaulan hidupnya sehari-hari, baik ketika melakukan kegiatan ibadah dalam rangka hubungan vertikal dengan Allah, maupun ketika melakukan berbagai aktivitas dalam rangka hubungan horisontal dengan sesama manusia, seringkali melakukan kesalahan, kekeliruan, kelalaian, dan bahkan perbuatan dosa serta kemaksiatan. Kesalahan, kekeliruan, dan semacamnya itu boleh jadi dilakukan dengan sengaja dan boleh jadi juga tanpa sengaja. Kesalahan, kekeliruan, dan perbuatan dosa, tidak boleh dibiarkan berjalan dan berlangsung terus. Jika hal-hal demikian dibiarkan berlangsung terus akan dapat membuat seseorang bertambah jauh menyimpang dari jalan yang bernar, yaitu jalan Allah swt. Untuk menghindari terjadinya penyimpangan yang lebih jauh dan lebih besar, dan untuk dapat kembali ke jalan yang benar dan sesuai dengan tuntunan Allah swt., seseorang harus melakukan taubat kepada Allah.

DEFINISI TAUBAT

Dilihat dari akar katanya, kata “taubat” berasal dari bahasa Arab, yailtu “at-taubat”, yang merupakan kata turunan dari kata kerja “t±ba yat­bu” yang berarti rujuk atau kembali. Bertaubat berarti rujuk dan kembali ke tampat asal. Seseorang yang telah berataubat berarti telah kembali ke tampat yang sebenarnya.
Dalam berbagai referensi keagamaan, bertaubat diartikan sebagai upaya seseorang untuk kembali dari kemaksiatan menuju kepada ketaatan atau kembali dari jalan sesat menuju ke jalan yang benar, atau kembali dari jalan yang jauh dari Allah ke jalan yang lebih dekat dengan jalan Allah swt. Bertaubat tidak hanya berarti upaya untuk membersihkan diri dan hati dari segala perbuatan dosa yang telah dilakukan, tetapi juga berarti sarana dan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Oleh karena itu, sekalipun tidak berdosa, manusia tetap dipertintahkan oleh Allah untuk bertaubat. Ini berarti bahwa bertaubat adalah wajib bagi setiap mukmin.

PERINTAH BERTAUBAT

Kewajiban bertaubat di dalam al-Qur’an, dinyatakan oleh Allah swt. dalam berbagai konteks ayat yang memerintahkan orang-orang beriman untuk bertaubat. Di antara ayat-ayat itu adalah:

وتوبوا إلى الله جميعا أيها المؤمنون لعلكم تفلحون (النور:{24}: 31)

Bertaubatlah kalian semuanya kepada Allah, wahai orang-orang beriman, semoga engkau mendapat kemenangan”

                Perintah  yang sama juga dinyatakan oleh Allah dalam surat at-Tahrim (66): 8, yang berbunyi:

ياأيها الذين آمنوا توبوا إلى الله توبة نصوحا


“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu keppada Allah dengan taubat yang ikhlas”

            Dalam kedua konteks ayat di atas, Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk bertaubat dan kembali ke jalan-Nya. Perintah itu jelas menunjukkan adanya kewajiban bagi setiap mukmin -tanpa kecuali- untuk bertaubat. Bahkan dalam hadis Rasulullah saw., terdapat beberapa teks hadis yang menggambarkan kehebatan orang-orang yang bertaubat. Di antara hadis itu ialah:

كل بني آدم خطاء وخير خطائين التوابون


Saetiap anak Adam itu bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat”.
               

التائب حبيب الله والتائب من الذنب كمن لا ذنب له


“Orang yang bertaubat iltu adalah kekasih Allah dan yang telah kembali dari perbuatan dosa dan kesalahan itu, bagaikan orang yang tidak pernah berdosa”.

                Hadis pertama menggambarkan bahwa setiap manusia tidak dapat dan bahkan tidak mungkin luput dari kesalahan dan kekeliruan. Manusia seringkali melakukan kesalahan dan kekeliruan, baik dengan sengaja maupun tanpa sengaja. Lebih daripada itu, hadis tersebut menggambarkan betapa terpujinya seseorang yang telah melakukan kesalahan, perbuatan dosa, dan kemaksiatan, kemudian melakukan taubat dari kesalahan-kesalahannya itu. Hadis kedua menggambarkan bahwa orang-orang yang bertaubat itu adalah kekasih Allah (orang-orang yang disayangi dan disukai Allah) dan orang-orang yang pernah melakukan kesalahan, apabila telah melakukan taubat bagaikan orang-orang yang tidak mempunyai kesalahan dan dosa sama sekali.

KEDUDUKAN  DAN TINGKATAN TAUBAT
                Taubat di kalangan ulama tasawuf di pandang sebagai pintu pertama menuju jalan spirititual, karena ia merupakan titik awal untuk mencapai tingkat-tingkat spiritualitas yang lebih tinggi. Untuk itu, taubat menjadi sangat penting kedudukannya dalam rangka lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Taubat tidak hanya merupakan perwujudan dari rasa bersalah dan berdosa, tapi juga merupakan perwujudan dari keinginan untuk tetap menjaga diri dari kesalahan dan perbuatan dosa yang mungkin dilakukan. Ini berarti bahwa bertaubat tidak hanya bertujuan meninggalkan perbuatan dosa, tetapi juga menjaga keutuhan jiwa agar tetap bersih dan berada pada jalan yang benar.

Imam al-Ghazali membagi taubat kepada 3 macam: 1) Taubat, yakni kembali dari kemaksiatan kepada ketaatan, 2) firar, lari dari kemaksiatan kepada ketaatan, 3) inabah, bertaubat berulangkali sekalipun tidak berdosa.  Sedangkan Imam Ibn al-Qayyim al-Jauzi membagi taubat sesuai dengan tingkatan dosa dan kesalahan yang dilakukan seseorang, kepada 6 macam, 1) taubat karena kekafiran menuju keimanan, 2) taubat karena berbuat maksiat menuju kepada perbuatan taat, 3) tobat dari perbuatan dosa besar, 4) taubat dari dosa-dosa kecil, 5) taubat karena melalaikan ketaatan kepada Alah, 6) taubat karena tidak peduli terhadap amal-amal utama.
Imam al-Qusyairi menyatakan bahwa taubat akan menghapuskan dosa bila terpenuhi tiga syarat; 1) menyesali perbuatan maksiat/dosa, 2) meninggalkan perbuatan maksiyat itu, 3) bertekad untuk tidak mengulangi lagi dosa itu.
Rasulullah adalah orang yang ma’shum (terlepas dari dosa). Sebagai orang yang ma’shum, Rasulullah tetap dan senantiasa bertaubat, seperti dalam hadisnya:

ياأيها الناس توبوا إلى الله واستغفروه فإنى أتوب فى اليوم مائة مرة (رواه مسلم)

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mintalah ampun kepada-Nya karena aku bertaubat dalam sehari sebanyak seratus kali”.

Allah     setiap saat membentangkan tangan-Nya utnuk menerima taubat siapa pun dan memberi ampunan kepada hamba-Nya yang telah melakukan perbuata dosa. Sifat Allah yang Maha Penerima Taubat diagambarkan oleh Rasul dalam hadis:

إن الله يبسط يده باليل ليتوب مسيئ النهار ويبسط يده بالنهار ليتوب مسيئ اليل حتى تطلع الشمس من مغربها (رواه مسلم)

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk men erima taubat orang yang membuat kesalahan pada siang hari, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat dari orang yang membuat kesalahan pada ma lam hari sehingga matahari terbit di ufuk barat”.

Taubat sangat berkait erat dengan istighfar sebagai upaya sungguh-sungguh yang dilakukan untuk menundukkan jiwa, hati, dan fikiran kepada Allah seraya memohon ampun dari segala dosa. Istighfar tidak hanya dalam bentuk ucapan tetapi juga dalam bentuk perbuatan, dengan meninggalkan segala dosa dan meningkatkan ketaatan kepadanya. Alah menyatakan janji-Nya melalui firman-firman-Nya untuk memberikan kenikmatan dan ketenangan bagi orang-orang yang bertaubat dan beristighfar. 

ربنا اغفر لنا ذنوبنا وكفر عنا سيئاتنا وتوفنا مع الأبرار

Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti”.



SATU KEBAJIKAN SEJUTA KEDAMAIAN
             Hakekatnya tidak ada manusia yang ingin disebut penjahat atau orang yang tidak baik, sekalipun mereka jelas-jelas para penentang kebaikan, para penggemar perbuatan jahat. Tidak ada pencuri yang mau mengaku kalau dirinya seorang pencuri, apalagi terang-terangan memberi tahu bahwa ia baru saja mencuri di rumah si Anu, tentu saja kalau ada yang seperti ini paling-paling dianggap orang gila dan suah pasti penjara pun penuh. Bahkan tidak ada satu penjahatpun yang rela bila kelak keturunannya mengikuti langkahnya untuk juga menjadi penjahat.
             Maka kemudian bergulirlah satu pertanyaan apakah pencuri atau penjahat yang merasa ingin bertaubat dan segera mengakhiri perbuatannya ? tentu saja jawabannya ada, bahkan hampir setiap penjahat yang tertangkap dan biasanya dihakimi massa kemudian mendekam di sel tahanan, mengaku menyesali perbuatannya dan ingin kembali ke jalan yang benar. Meski demikian, tetap saja ada diantara mereka yang tidak jera dihakimi massa dan tidak bosan menginap di ruang sempit berjeruji besi.
             Bentuk lain yang lebih sederhana adalah kejahatan dan kemaksiatan yang tidak menyangkut orang lain, yakni maksiat terhadap diri sendiri. Meski tidak terasakan oleh orang lain, meski tidak merugikan makhluk lainnya secara langsung, dan meski tidak diketahui oleh manusia lain, tetap saja disebut kemaksiatan jika perbuatan yang memang jelas-jelas menghancurkan dirinya sendiri.
Hadirin sidang jamaah jum’at yang diridhai Allah.
             Pada dasarnya manusia diciptakan dengan bentuk kejadian yang sempurnah.
لقد خلقنا الانسان فى احسن تقويم (التين : 4)
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik baiknya.
             Bahkan manusia itu lahir dalam keadaan fitrah suci begaikan kertas putih bersih tanpa garis dan tulisan. Nabi saw. bersabda :
كل الناس يولد على الفطرة
Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci bersih.
             Sehingga sudah menjadi tabiat sesungguhnyalah semua manusia senang berbuat kebajikan dan menolak hal jahat atau dorongan untuk berbuat kejahatan, itu jelas tidak sesuai fitrah manusia sebagai makhluk yang terlahir suci, memiliki kecenderungan kepada kebenaran dan kebaikan. Kalaupun ada diantara manusia yang melakukan perbuatan menentang fitrahnya, tentu ada unsur asing yang masuk kedalam hatinya menggerogoti benteng-benteng fitrahnya dan mengubah kecenderungan hatinya kepada kebathilan dan dosa. Padahal sesungguhnya, setiap hati manusia yang tercipta dalam keadaan bersih ini senantiasa menolak bercak-bercak hitam kemaksiatan.
Hadirin yang berbahagia.
             Unsur asing itu kadang keluar masuk kedalam hati manusia, menguasai dan mendominasi setiap gerak dan perilaku empunya hati. Sebagai contoh, seperti pencuri saat tertangkap basah dalam melakukan aksinya, serta merta unsur asing itu pergi menjauh meninggalkan jasad si pencuri. Dan bisa kita saksikan, fitrah kebaikannya yang muncul bahwa ia karena terpaksa melakukan atau sedang khilaf. Kemudian kata-kata taubat muncul dari mulutnya. Jika tekat hatinya sangat kuat untuk tidak melanjutkan perbuatan dosa, dan menghindari segala bentuk kemaksiatan, maka unsur asing itu tak akan pernah bisa lagi kembali masuk karena pintu hati itu tertutup untuknya. Namun, jika yang keluar dari mulutnya itu hanya “taubat sambal” maka jangan heran jika kemudian unsur itu keluar masuk dan kembali mendominasi hati manusia untuk senantiasa berdekatan dengan dosa.
             Bagaimanapun setiap perbuatan dosa yang terjadi membuat dada ini terus bergemuruh oleh ledakan-ledakan kegelisahan dan keresahan karena pada hakekatnya hati yang fitrah ini menolak. Bahwa dosa adalah sesuatu yang dirasakan tidak menegakkan, gelisah, takut kalau-kalau orang lain mengetahui dan sedang membicarakannya. Setiap manusia yang mempunyai kecenderungan kepada kebenaran akan merasa malu berbuat maksiat bahkan akan terasa lebih berat malunya jika dosa yang pernah dilakukannya diketahui oleh orang lain. Bagaimana jika malunya dia dengan Allah Swt. yang Tahu Maha Tahu itu?
             Sementara sekarang bayangkanlah ketenangan yang masuk kesekujur tubuh ini saat sedang melakukan shalat. Hadirkan ketenangan itu juga pada setiap waktu duduk, berdiri, berbaring dan diamnya kita disetiap tempat. Rasakan kehangatan yang menyelimuti relung-relung hati ini saat berbagi rezeki dengan orang lain teruskan kehangatan itu dalam melangkah bersama para fakir dan yatim piatu dengan menanggalkan pakaian-pakaian kesombongan. Dapatkanlah kesejukan dan kedamaian dari hal-hal baik yang terangkai apik dalam keseharian perilaku kita, bagaimana kita setiap waktu itu terisi satu, sepuluh, seratus bahkan sejuta kedamaian. Bahkan kita bisa memperelah semua keindahan hidup hanya dengan menebar senyum dan mendapatkan kembali senyum yang begitu tulus dari saudara-saudara kita, subhanallah, dan senyum itu adalah sadaqah.
             Jelas setiap perbuatan baik akan menghadirkan ketenangan dalam dada manusia yang mengerjakannya. Setiap hati bertambah dan makin banyak hal baik dekerjakannya, semakin bertambah pula ketenagan meliputi hatinya. Sebaliknya, gunda, gelisah dan resah bahkan rasa takut senantiasa mengiringi setiap perbuatan jahat dan dosa. Maka, masikah terus menerus kita betah dengan keadaan hati yang tidak menentu ini hanya karena kita gemar berbuat maksiat? Bagaimana dengan dua, tuga, atau sepuluh kebajikan. Tentu saja butir-butir kedamaian itu, takkan pernah bisa terhitung dan senantiasa hadir dalam hidup dan kehidupan kita.


SAMBUTLAH KEMATIAN DENGAN ZUHUD
      لحمد لله, الحمد لله الذى شرف المؤمنين بشريف نور الايمان, ووعدخم بدخول الجنة خالدين فيها والحور والوالدين. الشهد ان لااله الا الله وحده لاشريك له شهادة افوز بها فى دار الايمان. واشهد ان محمد عبده ورسوله الوسيلة العظم فى نيل الغفران, صلى الله على سيدنا محمد وعلى عاله وصحبه السابقين بالايمان وسلم تسليما كثيرا اقبلوا دين الاسلام فانه حق غيره صلال وكفران. واجتهدوا فى طلب كما له يفعل الاوام واجتناب المناهو والطبيان (اما بعد)
             Khatib mengajak saudara-saudara sekalian untuk senantiasa lebih meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Swt. dan marilah kita bersama-sama memanjatkan puja dan puji syukur kita kehadirat Allah Swt. yang menimpahkan beribu-ribu nikmat kepada kita diantaranya nikmat kesehatan iman dan Islam, sehingga kita dapat berkumpul di mesjid ini guna melaksanakan ibadah mingguan kita yaitu shalat jum’at, dalam keadaan sehat-sehat wal-afiat. Shalawat dan salam tak bosan bosannya kita sanjungkan kepangkuan seorang hamba Allah yang terpilih baginda Rasululla Muhammad saw.
             Hadirin sidang jamaah jum’at yang diridhai Allah Swt.
             Judul khutbah yang akan khatib bawakan pada kesempatan ini yaitu “Sambutlah Kematian dengan Zuhud”
             Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap jiwa mengalami kematian tiap detik, jam, menit, hari, bulan dan tahun. Seperti kata para ahli biologi bahwa sel-sel tubuh kita tiap detiknya mengalami kematian dan digantikan oleh sel lainnya yang baru. Namun tiap sel yang baru itu jumlahnya belum tentu sama atau bahkan lebih banyak yang mati. Sebab setiap sel setiap hari energinya semakin berkurang, otomatis jiwa dan tubuh kita mengalami kemunduran, dan mendekati kematian (ajal/maut), demikian kata para ahli biologi. Maka benar firman Allah Swt. yang berbunyi:
كل نفس ذا ئقة الموت
Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian.
             Ketika setiap sel tubuh kita mati, artinya kita telah mengalami kematian kecil. Kematian kecil ini merupakan sarana dan latihan untuk menuju kematian besar, yakni pencabutan nyawa manusia oleh malaikan Israil atas izin Allah Swt. sang pencipta segalanya.
وجاءت سكرة الموت بالحق ذالك ماكنت منه ثحيد
“Datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya, itulah yang kamu selalu lari dari padanya”. (Qaaf: 19)
             Alangkah indahnya, jika setiap sel tubuh kita yang mati itu adalah sel yang beramal shaleh, atau kita dalam keadaan khusnul khatimah. Dan tentu sangat malang, jika sel yang mati itu, kita dalam keadaan berbuat jahat, atau dalam keadaan su’ul khatimah. Kalau yang terjadi demikian, berarti kita telah menumpuk deposito dosa, dan siksa kubur itulah yang kita terima itu sudah pasti. Naudzu billahi min zalik.
             Seperti kita ketahui, bahwa saat kita menghadap Allah swt. didepan mahkamah-Nya, kita disertai oleh malaikat, yakni malaikat pengiring dan penyaksi amal-amal perbuatan kita didunia. Allah Swt. berfirman dalam surat al-Qaaf ayat 21:
وجاءت كل نفس معها ساءق وسهيد
“Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia malaikat pengiring dan malaikat penyaksi”.
Itulah peristiwa kematian yang kita hadapi.
             Setiap orang yang berdosa akan tampak baginya amalan-amalan buruk yang pernah dilakukannya di dunia kala itu. Al Alamah Sayyid Abdullah Haddad pernah mengisahkan kondisi mereka yaitu bahwa para pemakan riba, perutnya akan mengelembung sehingga mereka sebentar terjatuh dan sebentar berhenti, saking beratnya beban itu. Para pesina atau pelacur akan membesar kemaluannya sehingga menyapu tanah. Para pemabuk ketika dibangkutkan mereka masih memegang gelas-gelasnya, para pendusta, pengumpat dan pengaduh domba serta tukang fitnah lidah mereka akan menjulur sampai kedada. Orang-orang yang menolak (tidak mengeluarkan) zakat akan dibawah keliling bersama ular-ular yang besar sebagai perwujudan dari harta mereka yang tidak ditunaikan. Sedang orang-orang sombong angkuh akan dibangkitkan seperti semut, lalu mereka diinjak-injak oleh orang-orang jahat maupun orang-orang baik, dan tidak ada alasan bagi mremereka untuk menyelamatkan diri. Inilah makna firman Allah SWT dalam surat Arahman ayat 41 :
يعر المجرمون بسيمهم فيؤحذ بالنواصى والاقدام
“orang-orang yang berdsa dikenal dengan tanda-tandanya alu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.”
             Maksud dari pada ayat ini adalah pada hari hisab nanti tidak lagi didengar alasan-alasan dan udsur-udsur yang mereka temukan.
             Kemudian bagaimana kita menyiapkan diri atas peristiwa yang tak bisa kita hindari dan pasti terjadi itu. Rasulullah SAW memberi nasehat kepada kita melalui sabdanya agar terhindar dari mala petaka ygngeri itu. Sabda beliau tersebut yang artinya ;
“orang-orang pertama dari umatkuini akan selamat dengan suhud dan kuatnya keyakinan. Adapun yang terakhir dari mereka adalah mereka akan binasa dengan berlebih-lebihan cintanya dengan dunia dan panjangnya angan-angan dalam hidupnya.
             Olehnya itu hadirin sekalian janganlah berlebih-lebihan dalam hal dunia sebab kita akan meninggalkannya dan akan menuju ketempat yang berikutnya yaitu kuburan atau alam barzah. Kalau didunia selalu emngingat tempat itu ketimbang dunia, maka kita akan selamat di dalamnya. Sabda Rasulullah SAW.
أعمل الدنياك كانك تعيث ابدا وعمل الاخرتك كانك تموت غدا
“Kerjakanlah duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya dan kerjakanlah akhiratmua seakan-akan kamu akan mati besok”.
             Panjangnya angan-angan yang disebutkan dalam hadits di atas para ulama salaf berkata semakin panjang angan-angan seseorang untukmenguasai dunia makin rusaklah amalan-amalannya, jadi dengan memanjangkan angan-angan itu seseorang akan semakin lupa dengan taubat, ia semakin jauh dari mengingat mati, malas berbuat amal saleh. Hal itu terjadi kaena ia telah bersenang-senang dengan sahwat aau keinginannya dan sampailah ia ditemui ajalnya dan orang-orangpun akan berkata  Inna lillahi wainna ilaihi raajiuun.
             Hujjatul Islam Imam al-Gazali dalam kitabnya al-Bidayah berkata “ketahuilah bahwa maut itu tidak akan menjemput anda pada waktu atau keadaan tertentu, akan tetapi maut pasti menjemput anda pada waktu yang tidak diketahui.” Olehnya itu menyediakan diri untuk maut itu lebih baik dan utama daripada menyediakan diri untuk dunia.
             Akhirnya khatib mengajak hadirin untuk selalu bersifat suhud dalam kehidupan ini, perbanyaklah bekal kebajikan ditempat perhentian kita ini yaitu dunia agar selamat tentram dan bahagia ditempat perhentian berikutnya Amin yaa rabbal alamin
 بارك الله لى ولكم فى القران ونفعنى واياكم بما فيه من الاياة وذكرالحكيم وتقبل منى ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم.



                                                                                              Bulukumba 1 Agustus 2012
                                                                                                    Daeng Situju,S.Pd.I

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar